Label

Senin, 07 Mei 2012

Mengenal Nama Asli dalam Bahasa Wehea

Nama adalah Identitas


Ada sebuah ungkapan mengatakan: apalah arti sebuah nama. Sebuah kalimat pendek dan sangat sederhana, seolah-olah nama menjadi tidak begitu penting apalagi berarti.

Tetapi bagi kebanyakan orang, nama adalah sebuah identitas, bagi siapa saja, baik manusia yang menyebut dirinya sebagai manusia modern, termasuk hingga kepelosok kampung serta wilayah-wilayah komunitas. Bagi semua yang menghargainya, nama memiliki makna dalam, ada yang mengambil nama dari kitab suci, ada yang mengadopsi nama-nama orang terkenal, atau nama-nama tertentu yang juga memiliki artinya masing, dan dari kesemuanya itu, bahwa nama sangalah lekat dengan sebuah identitas.

Begitu pentingnya arti sebuah nama, hingga akhirnya, ketika nama itu salah dalam penyebutan atau penulisan misalnya, bisa berdampak pada sesuatu yang kurang baik, atau bahkan menghilangkan makna atau artian sebenarnya termasuk pada perkampungan yang menjadi sebaran utama dari masyarakat komunitas Suku Dayak Wehea.

Masyarakat Dayak Wehea saat memberi nama orang atau bahkan tempat, memiliki kandungan makna serta artianya sendiri, tetapi ternyata sebenarnya telah lama pula, nama-nama dalam bahasa Wehea, khususnya nama-nama perkampungannya, pada saat ini seolah hilang arti dan tentu hilang makna.

Contoh paling sahih adalah penyebutan nama Suku Wehea itu sendiri. Hingga tahun 2005, sangatlah sulit kita menemukan sebuah referensi untuk mengetahui eksistensi mereka. Minimnya proses dokumentasi serta sebuah "kampanye" untuk menyebutkan nama suku tersebut menjadi kendala dan tantangan utama, sehingga berdampak pada terjadinya kesalahan masa lalu yang apabila terus dipelihara akan menghilangkan nama itu sebenarnya.

Mengambil contoh dari hasil penelitian sebuah lembaga, dimana hanya sekitar 20% saja yang menyebut diri mereka sebagai orang dari Suku Wehea. Lebih celakanya lagi, bahwa sebagian besar orang-orang yang terlibat adalah orang tua. Mayoritas mereka menyebutkan bahwa mereka adalah orang asli ditempat ini, tetapi menyebut nama sebuah Suku Dayak lainnya. Tragis dan ini benar-benar sebuah "kecelakaan" dan  yang tidak dipahami pada saat itu adalah bahwa mereka sedang dalam tahapan untuk menggali sebuah lobang besar dimana nama aslinya akan "dikuburkan".

Begitu pula yang terjadi ketika kita melihat berbagai kop surat, plang-plang nama kampung, hampir seluruhnya salah, dan lebih fatalnya adalah bahwa hingga sebelum tahun 2005, tidak ada sebuah proses apapun untuk menggantinya apalagi melakukan protes atas kesalahan tersebut.

Kembali kepada penyebutan Suku Wehea, hanya ada 2 referensi yang kutemukan, menulis dengan benar penamaan dari Suku Wehea. Sisanya? Mohon maaf. Tetapi apakah kita juga akan melakukan pembiaran atas kesalahan tersebut? Tentu tidak. Harus ada sebuah proses dan perjuangan panjang untuk "membumikan" kembali penyebutan nama Suku Wehea secara benar, sekaligus menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka, saat mereka menyebutkan dari mana mereka berasal. Tidak mudah dan penuh tantangan, bahkan bukan rahasia lagi, sempat terjadi intrik untuk menghilangkan kembali penyebutan yang benar tersebut. 

Kalau kita coba untuk memahaminya, ketika mereka sepakat untuk menyebut diri mereka siapa, mengapa kita harus merasa terganggu? Dan setelah kita mendalaminya, ternyata seperti itulah yang sebenarnya, dan mengapa kita harus berusaha menghilangkannya kembali?

Kesalahan penyebutan nama Wehea sejak sekian puluh tahun lampau, akhirnya "hampir" menghilangkan nama suku itu sendiri. Mencoba untuk menilik kembali sebuah catatan, saat melakukan riset kecil-kecilan pada desa-desa eks transmigrasi dan bertanya, apakah mereka mengenal orang Wehea? Seratus persen dari     dari hampir 150-an orang pada 9 desa eks trans menyebut mereka tidak mengenal nama itu, tetapi hanya mengenal bahwa mereka orang Dayak. Sungguh memprihatinkan, dan sangat tragis menurut saya.

Akhirnya apa yang terjadi? Saat kesalahan penyebutan itu berlangsung dari beberapa masa yang lampau, ada banyak kesalahan tercipta hingga kini, dan tentunya sungguh sulit dan perlu waktu untuk membalikannya kembali. Ambil saja contoh dari penyebutan nama kecamatan ini. Pada masa lalu orang-orang dari Suku Wehea sama sekali tidak mengenal namanya Muara Wahau, tetapi yang mereka kenal adalah "LEBENG WEHEA". Sekali lagi: "LEBENG WEHEA", yang mengandung arti Muara Wehea. Akibat kesalahan masa lalu dan tidak ada upaya perbaikan, akhirnya dengan peran serta pemerintah yang secara prinsip (pada masa lalu) sama sekali tidak memperdulikan kesalahan itu, kesalahan penyebutan itu terjadi hingga kini. Bukan Muara Wehea yang sebenarnya adalah benar, tetapi berubah menjadi Muara Wahau, yang sangat salah dan salah penyebutannya, dan tentunya telah menghilangkan arti dan makna sebenarnya.

Kecelakaan terjadi pula dalam pemberian nama sungai. Masyarakat Wehea, yang empunya sebagai orang-orang telah beratus tahun tinggal dalam wilayah ini, menamakan sungai yang melintasi kampung mereka dengan Long Msaq Teng atau Guang Henguei Wehea, atau lebih dipermudah lagi sebagai Sungai Wehea. Lalu dimana letak sejarahnya, sehingga berubah menjadi Sungai Wahau. Kembali lagi, agak lucu tapi tragis akibatnya.

Selain itu, juga terdapat contoh lainnya terkait dengan penyebutan nama-nama desa dalam komunitas Wehea. Sebagai awal kita mulai dari Nehas (dulunya: Nehes) Liah Bing. Nehas artinya pasir dan Liah Bing adalah nama tetua kampung yang pertama menetap dan membuka kampung Nehas ini. Kesalahan fatal terjadi bahkan hingga sekitar tahun 2006, dan untuk memperbaikinya, diperlukan perjuangan ekstra, sekaligus perlawanan untuk kembali pada kaidah sebenarnya.

Terus kita melangkah ke bagian hilir, tepatnya di Long Wehea. Sejatinya, hanya nama kampung ini yang disebut dan ditulis secara benar, tetapi kecelakaan seperti di Nehas Liah Bing dan bahkan lebih parah adalah mengubah semua kebenaran penyebutan dengan menggantinya seratus persen dengan kesalahan. 

Nama asli kampung tersebut adalah Diaq Leway. Demikianlah saat dilakukan penelitian oleh sebuah lembaga di tahun 2005, dan saat menggelar sebuah kegiatan besar pada tahun 2010. Mengutip seorang tetua adat tentang nama kampungnya, dia berkata: mereka buat nama kampung kami jadi salah, itu orang pemerintah, orang perusahaan, orang luar lainnya. (Nama) Kampung kami sebenarnya adalah Diaq Leway, bukan Jak Luay. Tragis nian, kesalahan tersebut akhirnya diadopsi secara mentah-mentah oleh sebuah perusahaan kelapa sawit raksasa bernama Sinar Mas Group (Smart Tbk) dengan memberikan nama pada pabrik dan kebunnya sebagai Jak Luay Estate. Sebuah contoh kongkrit dari sebuah kesalahan terstruktur tapa pernah mau untuk mendalami lebih jauh sebelum nama itu ditetapkan. 

Bergerak ke sekitar bantaran Sungai Tlan (orang luar biasa menyebut sebagai Sungai Telen-ini juga adalah sebuah kesalahan), terdapat 3 desa disana. Pertama adalah Desa Dea Beq. Untuk desa ini, kembali teringat sebuah diskusi cerdas pada tahun 2006 bersama beberapa orang mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan KKN dari Universitas Mulawarman Samarinda di desa tersebut, saat mereka akan membuat sekian banyak plang (papan nama) untuk beragam kebutuhan di desa tersebut.

Kuakui, mereka cerdas. Mengapa? Saat akan memulainya, mereka merasa itu salah. Kesalahan fatal dalam penyebutan yang dilakukan secara masif oleh orang-orang dari luar haruslah segera diperbaiki. Benarkah nama desa itu Dabek? Seorang mahasiswa kritis bertanya. Kalau itu namanya, berarti, hilang pula artinya, ujarnya kala itu. Hal tersebut dia dapatkan saat berdiskusi dengan Kepala Adat Desa Dea Beq bernama Tleang Lung. 

Sebuah ungkapan ringan disampaikan saat diskusi kala itu. Kalau Dabek itu salah, kenapa kalian harus menulis kesalahan itu? Tulislah yang benar seperti yang disampaikan oleh sang kepala adat dalam diskusi kalian, dan perlu kalian ingat bahwa semua nama desa dalam komunitas Wehea ditulis secara salah dan sengaja dipelihara, kecuali Kampung Long Wehea. Janganlah kalian kembali menjadi orang luar yang salah dalam menulis nama orang disini, sekaligus juga menghilangkan arti dari nama itu. Akhirnya, merekapun memiliki tekad yang sama, untuk memperbaiki kesalahan masa lalu dan menuliskan sesuai dengan saran-saran yang ada, sehingga sampai kop surat desa pun mereka rubah menjadi Dea Beq.

Begitu pula yang terjadi di Desa Diak Lai yang salah disebut sebagai Jak Lai serta Bea Nehas yang biasa disebut Benhes. Memang, sungguh keterlaluan kok kita orang luar ini, yang terkadan tidak pernah tahu diri, sudah salah menyebutnya, bahkan melakukan pembiaran atas kesalahan itu.

Semua yang disebutkan diatas, hanya untuk mendorong kembali sebuah upaya dalam menggali sebuah kebenaran, dan paling utama adalah bahwa nama, bagi siapapun adalah identitas, yang memiliki makna serta artinya sendiri-sendiri, yang juga terkadang mengandung sejarah masa lalu yang tentunya pula terkait dengan pewarisan dari beberapa generasi sebelumnya.

Sekali lagi, mulailah kita wahai orang luar, untuk belajar mencari kebenaran, bahwa selama ini, terdapat banyak kesalahan, bukan yang dilakukan mereka, tetapi oleh kita sebagai orang luar yang datang ke tanah ini, untuk mencari hidup ditanah ini, dan terkadang kita menyebutnya sebagai orang yang empunya tanah itu. Itulah adalah ragam kesalahan yang sengaja telah kita ciptakan, dan sudah saatnya serta selayaknya kita untuk memperbaikinya, memperbaiki berbagai kesalahan tersebut, serta menyebutkannya kembali dengan benar, karena dengan demikian, kita telah menghargai mereka, menghargai sejarah mereka, menghargai tradisi warisan mereka, serta tentunya kita tidak lagi "MENGHINA" mereka, dengan salah menyebutkan identitas mereka........