Label

Selasa, 30 April 2013

Perwakilan Dayak Wehea hadiri Pekan Budaya Dayak Nasional 2013 di Istora, Jakarta



Pekan Budaya Dayak Nasional, Pukau Pengunjung di 
Gelora Bung Karno Jakarta.

Jakarta (27/4/13)

Pekan Budaya Dayak (PBD) di Istora Senayan Jakarta berlangsung meriah. Kegiatan pecan budaya yang dihadiri oleh 4 provinsi serta 1 provinsi baru di Kalimantan menunjukan sebuah eksistensi dari masyarakat Suku Dayak di tanah Borneo yang tersebar di seluruh provinsi disana.

Ledjie Taq, kepala adat Dayak Wehea Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wehea, Kutai Timur, Kaltim dalam Pekan Budaya Dayak Nasional Tahun 2013 di Istora, Jakarta
Wakil Presiden RI, Boediono membuka Pekan Budaya Dayak (PBD) tingkat nasional yang digelar di Istora Senayan, pada Minggu 29 April 2013. Dalam pembukaan yang meriah ini turut dihadiri oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta; Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan; dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar.

Marta Long Bing, salah satu mahasiswa Wehea di Jakarta dalam Pekan Budaya Dayak Nasional Tahun 2013
Pada acara ini juga turut dihadiri oleh lima pimpinan daerah Kalimantan yaitu Gubernur Kalimantan Tengah, Agustinus Teras Narang selaku Presiden Majelis Adat dayak Nasional; Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin; Gubernur Kalimantan Timur, Awan Faroek Ishak; serta Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis dan Pjs Gubernur Kalimantan Utara, Irianto Lambrie.

Marta Long Bing dan Ledjie Taq dari Suku Dayak Wehea bersama Teguh Prayitno (Dayak Jogja) saat mengikuti Pekan Budaya Dayak Nasional Tahun 2013 di Jakarta
Pekan Budaya Dayak 2013 merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan mendorong percepatan pembangunan Kalimantan di berbagai bidang dan memberdayakan seluruh masyarakat Dayak Khususnya di Wilayah Kalimantan.

seorang lelaki suku dayak dari kalimantan tengah
Selain itu, penyelenggaraan Pekan Budaya Dayak 2013 merupakan sarana untuk menunjukan keberagaman produk unggulan dan karya-karya inovasi kegiatan pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan kreativitas masyarakat luas dan pemerintah daerah dibidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya.

chris djoka, bersama dengan seorang lelaki suku dayak bidayuh dari kabupaten bengkayang, kalimantan barat
 “Pekan Budaya Dayak 2013 juga sekaligus bermaksud untuk memperkenalkan budaya Dayak ke dunia internasional dan lebih kongkrit lagi untuk menarik minat para pelaku ekonomi, baik dari dalam maupun dari luar negeri, untuk berpartisipasi dalam pembangunan Kalimantan”, ujar Wakil Presiden RI, Boediono.

seorang penari dari suku dayak di kabupaten barito selatan, kalimantan tengah
Lebih lanjut, Boediono mengatakan, tidak diragukan lagi bahwa Kalimantan memiliki berbagai ragam sumber alam yang potensinya luar biasa.  Agar potensi ini menjadi aktual, menjadi kenyataan, perlu dikelola dan dipadukan dengan unsur produktif lain yang diperlukan, yaitu manusia yang trampil, teknologi dan modal. 

Diharapkan bahwa forum ini dapat mempertemukan unsur-unsur produktif ini untuk mencari peluang-peluang baru bagi kerjasama untuk membangun Kalimantan

ritual tari belian dari suku dayak di barito selatan, kalimantan tengah
Pekan Budaya Dayak tingkat nasional di Gelora Bung Karno sesuai dengan rencananya akan berlangsung sejak tanggal 27 – 30 April 2013 banyak menarik minat warga Jakarta terutama warga Kalimantan yang berdomisili di wilayah tersebut maupun para pengunjung lainnya di sekitar Jakarta.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pentas seni dan budaya yang ditampilkan oleh berbagai kontingen dari kabupaten-kabupaten dari kelima provinsi di Kalimantan.
Selain atraksi dalam pentas seni dan budaya, juga dilakukan pameran kerajinan daerah yang ditampilkan oleh masing-masing kabupaten peserta Pekan Budaya Dayak 2013.

ritual tari belian dari perempuan suku dayak di barito selatan, kalimantan tengah
Walau sempat turun hujan, antusiasme penonton untuk melihat langsung eksotisme budaya Dayak pada PBD tersebut tidak surut, dan beberapa atraksi budaya yang luar biasa ternyata menyita perhatian dari segenap penonton yang hadir, diantaranya penampilan tari Gulung Perak Bulat Apai dari Kabupaten Barito Selatan, tarian Kempas dari Kabupaten Muara Teweh Timur ternyata sangat memuaskan penontong.

perempuan suku dayak bidayuh dari bengkayang, kalimantan barat
Acara terus berlanjut dengan penampilan lainnya dari beberapa provinsi, diantaranya dari Kalimantan Timur yang menampilkan tari Gantar (Kutai Barat), Datun Julut serta tari Belian, dan juga tari Tebengang dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Beragam penampilan dan atraksi seni budaya yang ada dalam Pekan Budaya Dayak Nasional tahun 2013 tersebut menunjukan keragaman yang ada dalam Suku Dayak selain juga sebagai sebuah bukti eksistensi dari Suku Dayak yang tersebar di seluruh tanah Borneo yang seyogyanya telah memperkaya khasanah budaya di tanah air.

Pentas seni dan budaya pada hari pertama berlangsung hingga malam hari. Sebuah persembahan dari gemulainya gerakan Tebengang turut memeriahkan malam seni tersebut, dan kemudian ditutup dengan tari Hudoq Suku Dayak Bahau dari Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Sementara itu, pada hari kedua PBD (28/4/13), dilaksanakan karnaval seni budaya Dayak dengan jarak tiga kilometer dengan rute start dari GBK, Jalan Jenderal Sudirman menuju ke Bundaran Senayan di Jalan Sudirman dan kembali ke GBK.

Mobil dan motor masing masing kabupaten dihiasi dengan ciri khas dan komoditi unggulan daerah, demikian juga halnya dengan peserta pawai karnaval memakai pakaian adat daerahnya masing -masing.

Iring-iringan karnaval di Jalan Jenderal Sudirman, tampak cukup menjadi perhatian warga Jakarta yang sedang berolahraga maupun yang sengaja datang untuk menyaksikan pawai tersebut.

Setelah pawai karnaval, dilanjutkan dengan pentas seni budaya Dayak dari masing - masing daerah dan sore harinya dilanjutkan dengan ritual adat Dayak.

Pelaksanaan Pekan Budaya Dayak Nasional Tahun 2013 yang diikuti oleh puluhan kabupaten dari 5 provinsi di Kalimantan tersebut telah menunjukan bahwa Indonesia sangat kaya akan keragaman budaya dan adat istiadat, disamping untuk menunjukan eksistensi dari Suku Dayak yang ada di tanah Borneo.

Hadir pula dalam Pekan Budaya Dayak Nasional tersebut, yaitu perwakilan dari Suku Dayak Wehea di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang diwakili oleh Bapak Ledjie Taq (Kepala Adat Wehea Desa Nehas Liah Bing).

Ledjie Taq dalam Pekan Budaya Dayak tahun 2013 tersebut mengungkapkan kekagumannya atas keragaman budaya dan adat istiadat yang dimiliki oleh Suku Dayak di Kalimantan dan sempat menyayangkan karena ketidakterlibatan Kabupaten Kutai Timur dalam kegiatan tersebut.

Ini adalah moment penting untuk memperkenalkan budaya dan adat istiadat Suku Dayak yang tersebar di Kabupaten Kutai Timur agar juga dapat diketahui oleh masyarakat luas seperti yang dilakukan oleh masing-masing kabupaten yang mengirimkan perwakilannya.

Kita memiliki tari Hudoq yang tentunya juga akan mampu menghipnotis para pengunjung yang hadir, apalagi bila disatukan dengan ritual Nluei yang biasa dilaksanakan setiap pesta panen tahunan. Hal itu telah terbukti ketika ritual Nluei dan Hudoq tampil di hadapan perwakilan 40-an Negara dalam acara TIME di Hotel Sheraton Senggigi, Lombok beberapa tahun lalu.

Ledjie Taq berharap, agar pada even serupa dalam kesempatan berikutnya, Kutai Timur dapat hadir dalam ajang ini, dan masyarakat Suku Dayak Wehea siap untuk mendukung dan mengirimkan perwakilannya untuk memeriahkan Pekan Budaya Dayak Nasional berikutnya. Kehadiran Ledjie Taq dalam kesempatan tersebut selain memenuhi undangan dari Panitia Pekan Budaya Nasional 2013, juga sekaligus untuk orientasi yang nantinya akan berguna apabila diundang hadir dalam kesempatan berikutnya.