Label

Jumat, 19 Juli 2013

In Memoriam: Mgr. Sului Florentinus, MSF (Uskup Agung Samarinda)



TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Uskup Agung Samarinda Monsinyur Florentinus Sului Hajang Hau MSF yang wafat mendadak di Rumah Sakit Mendistra Jakarta, Kamis (18/7/2013) malam, mengagetkan banyak orang. Seorang di antaranya Yohanes Don Bosco, seorang katekis atau pengajar agama Katolik di Keuskupan Samarinda.

“Saya kaget mendengar Monsinyur meninggal. Tadi siang, sekitar jam dua, kami masih saya telepon. Beliau bilang sedang antre mau berobat mata di sini,” ujar Don Bosco kepada Tribunnews.com saat ditemui di kapel kapel Rumah Duka Rumah Sakit Santo Carolus, Jakarta, Jumat (19/7/2013) dinihari.

Siang itu, Don Bosco sedang berada di Kota Bandung, Jawa Barat mengiktui satu pertemuan. Menurut Don Bosco, mereka secara kebetulan berangkat bersama-sama dari Samarinda, pada Senin (15/7) lalu. Monsignor atau Monsinyur disingkat Mgr Sului datang ke Jakarta untuk mengobati matanya yang mengalami gangguan penglihatan.

“Monsinyur ke Jakarta untuk berobat mata sebenarnya. Beliau sebenarnya sehat, tidak ada apa- apa. Ini kejadian mendadak,” kata Don Bosco.

Walau mengaku kaget, Don Bosco memaklumi kepergian untuk selama-lamanya Sului secara mendadak. Dia sudah mengetahui, beberapa bulan lalu, Sului menjalani operasi akibat tekanan jantung.

“Beberapa bulan lalu, kalau tidak salah awal tahun ini, Monsinyur operasi jantung. Dan di badannya beliau sudah dipasang macam-macam alat untuk memfungsikan jantung,” kata Don Bosco.

Don Bosco sendiri sangat akrab dengan mendiang, kelahiran Tering, Kutai Barat, Kalimantan Timur, 11 Desember 1948.  Laki-laki berkulit kuning langsat itu pernah hendak bersama-sama Don Bosco menempuh pendidikan di Filifina. “kami sudah mau berangkat. Tapi batal karena beliau diangkat Vatikan menjadi uskup,” ujar Don.

Uskup Sului mengabdi sebagai pastor sejak 15 Februari 1976. Diangkat menjadi Uskup  Samarinda 26 Juli 1993,  dan menerima tahbisan Uskup 21 November 1993.  Kemudian menjadi Uskup Agung 29 Januari 2003. Uskup Sului merupakan Uskup Agung ke III di Keuskupan Agung Samarinda.

Don Bosco mengakui mempunyai firasat penanda wafatnya Mgr Sului. Setelah tiba di Jakarta, saat beliau masih periksa mata, berkata ke saya. ‘Pak Bosco, selesai atau tidak selesai, saya harus pulang hari Sabtu karena saya ada janjian. Saksinya suster Matea. Saya baru sadar makna kata-kata itu karena baru saya tahu, Sabtu jasad beliau akan diantar ke Samarinda,” ujar Don Bosco, mantan seminaris Kentungan, Jogjakarta.

Pastor Hardosuyatno MSF pernah tinggal enam tahun di Kalimantan, dan tinggal serumah dengan Mgr Sului di Gereja Katedral Samarinda selama dua tahun, 1988-1990. Pastor atau Romo Hardo menuturkan bagaimana sosok Mgr Sului yang dia kenal.

“Seingat saya, dia humoris, menyenangkan, dia menggembirakan, dia inspiratif. Tapi dia menjadi orang yang sangat serius ketika menghadapi masalah-masalah. Dan selalu memberi semangat kepada para pastornya,” ujar Romo Hardo ditemui saat melayat di RS Carolus.

Romo Hardo memiliki kenangan bersama Uskup Sului. “Kenangan khusus saya, kalau saya sempat ketemu dengan beliau, beliau selalu ngajak untuk curhat. Curhatnya terutama tentang situasi Kalimantan, tantangan yang dihadapi rohaniwan-rohaniwan untuk terus mengembangkan di Keuskupan Agung Samarinda,” ujar Romo Hardo.

Kenangan lainnya, katanya, Mgr Sului selalu menghargai kreativitas yang dilakukan para pastornya dalam melayani umat. “Dia juga mempunyai relasi yang baik dengan para tokoh agama lainnya di Kaltim, juga dengan Pemerintah Provinsi Kaltim. Dia mendapat warisan dari uskup pendahulu menjadi sebagai pluralisme di Kaltim,” katanya.

Teladan Uskup Sului, menurut Romo Hardo, perlu ditiru menyangkut perhatian kepada siapa pun, kepeduliannya kepada orang-orang yang mengalami kesulitan. (tribunnews.com/eko sutriyanto/domu d ambarita)