Jumat, 19 Juli 2013

In Memoriam: Mgr. Sului Florentinus



 In Memoriam
Mgr. Sului Florentinus, MSF
Uskup Agung Samarinda

SAMARINDA - Wafatnya Uskup Agung Samarinda Monseignur (Mgr) Sului Florentinus MSF yang terkesan mendadak, meninggalkan kesedihan mendalam bagi umat Katolik di Kaltim. Sepanjang hari kemarin, Jumat (19/7), ratusan umat berdatangan ke Catholic Center di Jalan DI Pandjaitan, Samarinda.

Mgr. Sului Florentinus (Foto: Chris Djoka_31 Mei 2009)
Mereka terus memanjatkan doa sekaligus berbelasungkawa. Uskup meninggal pukul 19.45 WIB di RS Medistra, Jakarta. Pagi kemarin di Ibu Kota, jenazah dibawa dari kapel RS Santo Carolus ke Gereja Katedral, Jakarta, untuk disemayamkan.


Alm. Uskup Agung Samarinda (Mgr. Sului Florentinus) Foto: Istimewa

Menurut rencana, pagi ini sekitar pukul 05.50 WIB, jenazah diterbangkan dari Jakarta menuju Balikpapan. Lalu melewati perjalanan darat, jenazah Uskup dibawa ke Samarinda.

Ketua Catholic Center, Firminus Kunum, mengatakan bahwa begitu tiba di Samarinda, jenazah disemayamkan di Keuskupan Agung Samarinda. Setelah itu, diadakan Misa Requiem atau Misa Arwah.

Firminus menambahkan, Uskup Sului yang kelahiran Long Iram, Kutai Barat, juga mendapat penerimaan jenazah menurut adat Dayak Bahau.

Ahad (21/7) pagi, rangkaian prosesi dilanjutkan dengan Misa Requiem di Keuskupan Agung. Minggu sore, jenazah rencananya diarak untuk disemayamkan di Gereja Katedral Samarinda di Jalan Jenderal Sudirman dan kembali diadakan Misa Requiem.

Uskup Sului yang wafat pada usia 65 tahun dikebumikan pada Senin (22/7) setelah misa pelepasan jenazah. Uskup Agung diarak umat Katolik sampai di Permakaman Katolik di Sungai Siring, Samarinda.

Kepergian Uskup Sului membuat kepemimpinan di Keuskupan Agung Samarinda kosong. Ekonom Keuskupan Agung Samarinda, Pastor Hendrikus Nuwa SVD, mengatakan kekosongan ini bakal diisi anggota dewan keuskupan tertua sebelum memilih pejabat sementara. Selain menjalankan roda kepemimpinan, pejabat sementara dimaksud bertugas menentukan calon uskup agung. Calon-calon terdiri dari imam atau pastor di lingkup keuskupan yang jumlahnya 45 orang.

Seluruhnya memiliki potensi sama. Namun, hanya beberapa calon yang diajukan untuk dipilih langsung oleh Paus Fransiskus I di Vatikan. Secara teknis, keuskupan mengutus perwakilan untuk menyampaikan usulan calon uskup agung ke Vatikan. Jawaban Paus kemudian diserahkan lewat kedutaan.

“Biasanya, setiap tahun uskup mengirimkan calon-calon ke Vatikan. Tapi, saya tidak tahu pasti karena itu rahasia,” ucapnya, kemarin. Prosedur ini, kata dia, juga dilakukan saat Uskup Sului diangkat pada April 1993.  Dia menggantikan Uskup Choomans, rohaniawan asal Belanda, yang meninggal.

Jawaban Paus menunjuk Sului sebagai uskup baru memiliki rentang waktu dua tahun sejak nama Sului dan kandidat lain diterima Vatikan. Di keuskupan lain, jawaban Paus bahkan bisa sampai enam tahun bahkan lebih. Tak ada yang mengetahui pertimbangan Paus hingga perlu waktu bertahun-tahun untuk menunjuk uskup baru.

Hal tersebut bersifat rahasia. “Penunjukan uskup sulit diduga. Kebanyakan orang punya perkiraan siapa yang akan jadi uskup namun jawaban Vatikan sering tak terduga,” tutur Hendrikus.

Ketika belum wafat, Uskup Sului pernah bercerita kepada Kaltim Post tentang bagaimana dia dipilih oleh Vatikan. Disebutkan, tiga pastor harus diusulkan ke Takhta Suci di Roma. Melalui Duta Besar Vatikan di Jakarta, para calon uskup akan mendapat daftar pertanyaan rahasia yang dilapisi dua amplop. Isi pertanyaan semacam fit and proper test. Jika Vatikan sudah menentukan dan yang ditunjuk siap, barulah uskup diangkat.

Seperti diwartakan, Uskup Sului berpulang ke rumah Pencipta pada Kamis (18/7) malam sekitar pukul 19.45 WIB. Saat itu Sului tengah berada di Jakarta, menjalani operasi katarak yang dideritanya. Ketika itu, penyakit jantung koroner yang dideritanya kambuh. Rencana operasi jantung pun diagendakan. Belum lagi naik meja operasi, Sului mengembuskan napas terakhirnya di RS Medistra, Jakarta. (fel/*/bby/zal/k1)